Indonesia menghadapi tahun 2026 dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang merangkak naik, namun disertai dengan berbagai ketidakpastian: kondisi geopolitik, perubahan kebijakan di berbagai tingkatan dari Undang-Undang hingga Peraturan Bupati, sampai perubahan preferensi dan perilaku konsumen.
Menjawab peluang dan tantangan diatas, pada ada 7 Januari 2026, Public Affairs Forum Indonesia (PAFI) mengadakan talkshow yang membahas topik “Public Affairs Outlook 2026: Indonesia’s 2026 Public Affairs: Challenges, Strategies & the Path Forward!” untuk memberikan insight kepada praktisi Public Affairs dalam menyambut tahun 2026 serta langkah apa saja yang tepat untuk dilakukan oleh korporasi melalui kolaborasi lintas pemangku. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 50 praktisi Public Affairs dari berbagai perusahaan dengan sektor yang beragam.
Acara ini dibuka oleh Agung Laksamana, Ketua Umum PAFI dan setelahnya di lanjutkan dengan pemaparan materi Public Affairs Outlook 2026 oleh Garda Maharsi, selaku Director Prognosa Research & Consulting. Beliau sampaikan bahwa tahun 2026 ini adalah tahun dimana konsolidasi investasi, pertumbuhan manufaktur, dan akselerasi pembiayaan kredit akan menjadi tantangan utama. Public Affairs menjadi instrumen penting: melampaui advokasi, mendaratkan narasi, sekaligus menumbuhkan kolaborasi.

Forum Diskusi PAFI hari ini mengafirmasi realita tantangan yang telah kita prediksi bersama sepanjang 2026 onward. Sekaligus mengingatkan peran strategis Public Affairs (PA) dalam membantu perusahaan menavigasi dinamika external dan menempatkan diri sebagai thought partners bagi para pembuat kebijakan,” kata Dian Widyanarti, Head of Regulatory & External Affairs British American Tobacco sebagai salah satu pembicara di acara ini.
Sementara itu, pembicara lainnya, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa tantangan ekonomi dan perubahan kebijakan global dan domestik sangat besar. Posisi Public Affairs Team menjadi semakin strategis bagi perusahaan dalam mengarungi tantangan tersebut. Dibutuhkan Public Affairs Team yang semakin adaptive dan memahami lingkungan usaha yang terus berubah.
Tahun 2026 diperkirakan ditandai dengan dinamika dan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Peran PA menjadi sangat penting membantu pengembil kebijakan (co-policy making) yang berbasis data, memberi dampak pada masyarakat, aligned dengan program pemerintah, menciptakan voice bukan noise,” ujar Moh. Dian Revindo, Wakil Kepala LPEM FEB UI yang turut hadir sebagai pembicara memberikan insight dari sisi akademisi.

Turut hadir pembicara lain dalam diskusi ini, Haryo Damardono, Pemimpin Redaksi Harian Kompas yang memberikan pandangan bahwa dalam dunia yang bergerak begitu cepat, Praktisi Public Affairs kini juga dihadapkan dengan tantangan yang begitu kompleks. Untuk menghadapinya, Public Affairs Forum Indonesia telah bersiap diri dengan selalu mengupdate diri dari para pakar di bidangnya. Langkah itu sangat tepat dan semoga bermanfaat dari Public Affairs dan korporasi atau pihak-pihak lain yang diwakilinya.
Terima kasih kepada British American Tobacco (BAT) dan PGN Saka Energi Indonesia yang telah menjadi sponsor, juga kepada Repoeblik Advisory, Praxis dan Prajna yang menjadi parner di acara ini.
